My Experience

Latest

Pendapat sebagian guru sufi didalam syairnya (mengenai reinkarnasi)

Aku mempunyai satu jiwa tetapi memiliki seratus ribu tubuh. Namun aku tak bisa banyak bicara karena syariah memaksa diriku diam seribu bahasa. Aku telah menyaksikan diriku dalam dua ribu wajah manusia, tetapi semua wujud itu tak sebaik diriku saat ini.

Dia juga menyatakan:

Aku tetaplah satu jiwa meski memiliki seratus ribu tubuh. Tetapi jiwa dan ribuan tubuh itu semua adalah Aku.

Dan:


Jika kusaksikan Ruh, kulihat sembilan ratus tujuh puluh tubuh. Tapi jika hanya kusaksikan keadaanku, aku seperti tumbuhan yang terus tumbuh dan tumbuh.

Dalam puisinya, Rumi tampak sangat yakin, pada mulanya Tuhan menciptakan materi yang di dalamnya terkandung benih materi fisik dunia dalam bentuk yang lebih kasar—materi dunia yang kita ketahui saat ini. Dia menandaskan, segala sesuatu yang ada saat ini selalu mempunyai masa lalu dan masa depan. Tak ada sesuatu pun yang berhenti, semuanya bergerak, berkembang dari satu tingkat ke tingkat berikutnya:

Meskipun aku keturunan Adam, sesungguhnya akulah yang menjadi nenek moyangnya. Sehingga… bisa dikatakan ayahku adalah anakku, dan di luar pohon tumbuhlah sebuah benih.

Selanjutnya:


Selama seribu tahun aku mengapung dalam ether, bahkan ketika atom bergerak tanpa kendali. Jika aku tidak sepenuhnya ingat keadaanku saat itu, maka aku sering memimpikan perjalanan atom-atom yang menyusun tubuhku.

Puisi tersebut terlihat mengacu pada evolusi dan reinkarnasi.
Sebagai tahapan yang harus dilalui wujud lahir, tingkatan wujud berikutnya berjalan sesuai dengan rancangan wujud sebelumnya. Dengan cara ini, muncullah ribuan perubahan, dan tiap perubahan selalu lebih baik dari sebelumnya. Sadarilah selalu wujud saat ini karena jika kau berpikir tentang wujudmu di masa lalu, kau akan memisahkan dirimu dari Diri sejatimu. Inilah semua keadaan yang tetap, yang kau saksikan dalam kematian. Lalu, mengapa kau palingkan wajahmu dari kematian? Ketika tahapan kedua lebih baik dari tahapan pertama, maka matilah dengan senyum suka cita, dan pandanglah ke depan untuk menempati wujud baru yang lebih baik dari wujud sebelumnya. Sadarilah, dan jangan tergesa-gesa. Kau harus mati sebelum memperbaiki diri. Bagai sang surya, hanya jika kau tenggelam di Barat, maka di Timur, kau akan menyaksikan wajahmu yang cerlang gemilang.

Kesaksian akan keberadaan reinkarnasi dalam Islam bisa pula ditemukan pada pujangga sufi lain yang sangat terkenal, Mansoor al-Hallaj. Sufi yang berkata Ana al-Haq, persatuan dengan Tuhan, yang membuatnya harus membayar mahal dengan nyawanya. Tanpa keraguan dia menyatakan:


Seperti rerumputan, aku tumbuh berkali-kali di tepian sungai yang deras mengalir. Selama ribuan tahun aku hidup, berkarya, dan berusaha dalam beraneka ragam tubuh.

Pada kesempatan lain dia menulis:


Waktu melaju tiada henti-hentinya, seperti setetes air, aku menyatu dengan lautan. Tapi, saksikanlah bagaimana aku menyatu dari situ. Sebagaimana embun, aku melayang-layang di atas samudera keabadian dan muncul sebagai gelombang yang menderu di lautan.

Ahmed Jam, seorang sufi yang dijuluki sebagai ‘the mad elephant’ (gajah gila) di kalangan penyair juga memberikan kesaksian pada prinsip reinkarnasi ketika ia bernyanyi:


Seperti air keringat yang berada dalam tubuh dan kulit, meski telah terpisahkan dari samudera luas, aku tetaplah air yang sama. Pada awalnya aku adalah kayu bakar. Tapi lihatlah titik puncak yang telah kucapai. Saat terbakar dalam kobaran api, kayu bakar itu pun menjadi api itu sendiri. Dan dari api aku berubah menjadi Cahaya (nur). Ya…, tiada lain aku adalah cahaya. Sekarang diriku adalah matahari itu sendiri. Akulah lautan dan aku pula yang menjadi gelombang.

Masih dalam kesaksian adanya evolusi, seorang guru Sufi yang terkenal, Hakim Sanai, pernah menulis:


Dalam ruang iman dan kebijaksanaan, kematian tubuh berarti kehidupan jiwa. Korbankanlah napsu tubuh, hingga kau bisa tinggal dalam kesadaran alam ruh.

Dengan semangat yang sama, Khakani menyatakan:


Setelah bermanifestasi dalam dunia mineral, tumbuhan dan dunia binatang, tujuan puncak kehidupan adalah kesadaran kemanusiaan. Seperti al-Quran yang diturunkan setelah tiga kitab sebelumnya, kemanusiaan juga berkembang dari ketiga dunia itu.

Sebagai tambahan para penyair sufi yang telah disebutkan di muka, para pembaca bisa mempelajari karya-karya Sheikh Bahlool yang menyatakan pernah mengalami penyatuan selama dua tahun dengan Tuhan. Juga karya Sheikh Abdul Hussein Kharkani yang bisa mengingat kejadian-kejadian yang dia alami selama masih menjadi embrio dalam rahim ibu. Para penyair sufi yang disebut di sini hanyalah sebagian kecil dari banyak sufi lain yang memberikan kesaksiannya dalam buku ini. Nama-nama lain bisa ditambahkan untuk mendukung kandungan buku ini. Tapi saya kira buku ini bisa dikatakan cukup untuk meyakinkan para pembaca bahwa agama Islam sesungguhnya tidak asing dengan konsep reinkarnasi.

 

SETIAP MEDITASI ADALAH SEBUAH LATIHAN DALAM KEMATIAN

Saat seorang anak dilahirkan, berarti ia telah mulai untuk mati. Menurut saya, ini adalah suatu kenyataan. Tidak berarti ia akan meninggal 60 tahun kemudian atau 100 tahun kemudian. Ia sudah memulai untuk meninggal. Hal ini seperti saat kamu memutar sebuah jam, maka jam tersebut telah memulai untuk istirahat.

Jadi kapankah kematian ? Kematian adalah saat kamu dilahirkan. Dengan efektif inilah kematian. Kelahiran adalah kematian. Tentu saja akan memerlukan waktu. Semuanya akan diambil. Tidak ada apa-apa lagi. Mungkin memerlukan waktu 60 tahum, mungkin 3 hari, mungkin 17 tahun, mungkin 124 tahun. Tetapi kematian telah terjadi. Pada saat kamu dilahirkan, kamu benar-benar telah mati. Tetapi kita berpikir inilah kehidupan. Sekarang menurut kebalikannya, pada saat saya mati, kehidupan saya dimulai. Itu yang saya takutkan, ini yang saya suka. Sekarang lihatlah betapa bodohnya pendapat ini.

Kita dilahirkan karena kita mempunyai samskara tertentu yang membuat perlu bagi kita untuk datang dan hidup lagi, dan belajar pelajaran yang kita harus pelajari lagi. Kesalahan-kesalahan yang kita telah perbuat di masa lampau pada jalan kita, jalan evolusioner kita, harus kita perbaiki.

Jadi dalam kehidupan ini ada sebuah tujuan, ketika kita tidak dapat belajar lagi, ketika kita sudah penuh seperti yang seharusnya. Sehingga jiwa dengan kebijaksanaannya yang tidak terbatas berkata, “Cukup, sekarang saya harus berubah”. Jiwa akan mengosongkan tubuh ini, dan jika harus kembali lagi untuk belajar pelajaran-pelajarannya, maka jiwa akan memilih lingkungan yang berikutnya, tubuh yang berikutnya, semua yang diperlukannya. Jadi inilah pilihan kita. Kita memilih berapa lama kita harus hidup, dimana kita harus hidup, pada siapa kita harus dilahirkan. Jiwalah yang memilih segalanya.

Tetapi apa yang terjadi ? Setelah kita dilahirkan, kembali dunia yang diberkati ini menguasai kita. Kembali keinginan-keinginan mulai tumbuh subur, godaan mulai muncul, dan pelajaran yang sudah dibuat menjadi hilang dan kita sekarang berada di jalan yang salah, sehingga pelajaran tentang kehidupan tidak dipelajari. Kehidupan kita menjadi sia-sia. Dengan demikian kematian kita menjadi sia-sia, karena kita mati hanya untuk hidup lagi. Kita mati agar kita dapat membangun untuk diri kita sendiri kesempatan baru untuk berkembang. Dan kesempatan itu kita sendiri yang merusaknya.

Jika kita berpikir tentang kematian dengan cara yang benar, kita harus mengatakan kepada diri kita sendiri, “Kita telah membuang-buang hidup kita, marilah kita jangan membuang-buang kematian kita”. Tahukah kamu ini harus menjadi pikiran kita yang terakhir. Karena apa yang tidak dapat saya capai dalam hidup, tentu saja dapat saya capai dalam kematian lagi, jika saya tahu apa yang saya lakukan. Oleh karena itu pada saat kematian, perlu untuk paling tidak ‘sadar akan tujuan dan mati’.

Untuk memastikan bahwa kita mempunyai pikiran yang benar pada saat pelepasan, semua hal inilah yang harus kita lakukan – Meditasi, Ingatan terus menerus, mengembangkan cinta untuk Tuhan YME.Jadi jika kita telah menetapkannya sebagai kebenaran yang terus menerus dalam kehidupan kita, pikiran tersebut tidak dapat meninggalkan kita pada saat kita mati. Kita harus mati dengan pikiran dan kondisi ini.

Dan oleh karenanya tidak ada lagi pertanyaan mengenai dilahirkan kembali dan tidak diangkat. Bahkan jika kamu tidak mampu melakukan ini, tetapi pada akhir kehidupan kamu dan pada saat itu kamu mampu berpikir tentang Tuhan dalam bentuknya yang mutlak, yang mana tidak berbentuk, tidak ada lambang-lambang, keberadaannya tidak bernama, maka hal ini juga dimungkinkan terjadi.

Tahukah kamu bahwa kematian tidaklah ada. Jika saya melepaskan kemeja saya dan meletakkannya di keranjang baju, hal ini tidak berarti semua sudah mati. Tidak juga berarti saya telah mati. Kedua-duanya masih ada. Yang terjadi hanyalah mereka tidak bersama-sama. Kemeja ada di suatu tempat, saya ada di suatu tempat lain. Apa yang harus dikhawatirkan ? Apa yang harus ditakutkan ?

Selama kita takut untuk mati, kit tidak akan dilepaskan, tetapi kita akan terus dipenjara di dalam lingkaran kelahiran dan kematian yang mana sangat kita takutkan. Ini berarti seseorang yang takut untuk mati akan harus mati lagi dan mati lagi sampai dia kehilangan ketakutannya.

Setiap meditasi adalah sebuah pelatihan untuk mati. Karena saat kamu pergi sangat dalam, masuk ke dalam dirimu sendiri dan setelah itu kamu keluar dan berkata, “Saya sudah terserap. Saya tidak tahu dimana saya. Saya bahkan tidak tahu apakah saya sedang tidur atau sedang meditasi.” kamu sungguh -sungguh tidak di sana. Dalam arti kamu mati di dalam kehidupan ini. Oleh karena itu meditasi adalah latihan di dalam kematian. Dan jika kamu telah melakukan ini dengan benar, kita seharusnya menjadi tuan dari kematian, tuan atas tindakan kematian, seseorang dapat mati ketika dia menginginkannya, seseorang dapat mati ketika dia memilihnya, kembali lagi dan kembali lagi jika dia menginginkannya. Jadi kematiannya bukanlah benar-benar sebuah kematian.

“ITU yang tidak pernah terjadi, seharusnya tidak pernah ada : ITU yang hari ini harus ada dan akan pernah ada,” kata sebuah Upanishad kuno. Jiwa adalah abadi. Jiwa adalah bagian dari intisari yang suci, yang terakhir, yang nyata, yang bersifat keTuhanan.

Tuhan tidak dilahirkan, Dia tidak mati. Oleh karena itu saya tidak dilahirkan, saya tidak dapat mati. Semua yang saya lihat dan alami atas kelahiran dan kematian adalah problem saya yang dijatuhkan kepada saya dengan pengamatan saya, orang-orang dilahirkan dan orang-orang mati. Oleh karena itu saya berpikir saya dilahirkan dan saya akan mati. Kenyataannya adalah tubuh saya masuk ke dalam kehidupan dan akan berhenti.

sumber:

http://www.srcm.org/centers/as/id/MEDITASI.htm

Ketabahan hati kepada Allah swt

Ketabahan hati yang mantap untuk ber-bhakti kepada Tuhan Yang
Maha Esa tidak pernah timbul di dalam pikiran orang yang terlalu
terikat pada kenikmatan indria-indria dan kekayaan material.

Sabda Krishna kepada Arjuna tentang kata2 kiasan di kitab suci mengenai pahala

Orang yang kekurangan pengetahuan sangat terikat pada kata-kata
kiasan dari Veda, yang menganjurkan berbagai kegiatan yang dimaksudkan
untuk membuahkan pahala agar dapat naik tingkat sampai
planet-planet surga, kelahiran yang baik sebagai hasilnya, kekuatan,
dan sebagainya. Mereka menginginkan kepuasan indria-indria dan kehidupan
yang mewah, sehingga mereka mengatakan bahwa tiada sesuatupun
yang lebih tinggi dari ini, wahai putera Partha.

Telaga Ajaib yg mengajukan pertanyaan ke Yudisthira

Setelah berjalan beberapa lama, ia sampai ke tanah terbuka. Di depannya terbentang telaga. Airnya berkilau jernih bagaikan cermin cemerlang. Dan … di pinggir telaga ia melihat keempat saudaranya tergeletak tak bergerak. Dihampirinya satu per satu, dirabanya kaki, tangan, dahi, dan denyut jantung mereka.
Yudhistira berkata dalam hati, “Apakah ini berarti akhir dari sumpah yang harus kita jalani? Hanya beberapa hari sebelum berakhirnya masa pengasingan kita, kalian mati mendahului aku.

Rupanya para dewata hendak membebaskan kita dari kesengsaraan.” Menatap wajah Nakula dan Sahadewa, pemuda-pemuda yang di masa hidupnya periang dan perkasa tapi kini terbujur dingin tak bergerak,
hati Yudhistira sedih. “Haruskah hatiku terbuat dari baja agar aku tidak menangisi kematian saudara-saudaraku?
Apakah hidupku masih ada gunanya setelah keempat saudaraku mati? Untuk apa aku hidup?
Aku yakin, ini bukan peristiwa biasa,” gumam Yudhistira.
Ia tahu, tak seorang kesatria pun akan mampu membunuh Bhima dan Arjuna tanpa melewati pertarungan hebat. “Tak ada luka di badan mereka. Wajah mereka tidak seperti wajah orang yang kesakitan. Mereka kelihatan tenang, seperti sedang tidur dalam damai.” Hatinya terus bertanya-tanya. “Sama sekali tak ada jejak kaki, apalagi bekas-bekas tanah atau rumput yang terinjak-injak dalam perkelahian.
Ini pasti peristiwa gaib! Mungkinkah ini tipu muslihat Duryodhana? Mungkinkah Duryodhana telah meracuni air telaga ini?” Dengan berbagai pikiran di kepalanya, perlahan-lahan ia turun ke tepi telaga. Ia ingin melepaskan dahaganya yang sudah tak tertahankan lagi.

Tiba-tiba suara gaib itu terdengar lagi, “Saudara-saudaramu telah mati karena tak menghiraukan kata-kataku. Jangan engkau ikuti mereka. Jawab dulu pertanyaanku, setelah itu baru puaskan hausmu.
Telaga ini milikku.” Yudhistira yakin, suara itulah yang menyebabkan saudara- saudaranya mati. Pikirnya, ini pasti suara yaksa. Ia berpikir, mencari cara untuk mengatasi situasi itu. Kemudian Yudhistira berkata kepada suara yang tidak berwujud itu. Yudhistira : “Silakan ajukan pertanyaanmu.”
Suara gaib : “Apa yang menyebabkan matahari bersinar setiap hari?”
Yudhistira : “Kekuatan Brahman.”
Suara gaib : “Apa yang dapat menolong manusia dari semua marabahaya?”
Yudhistira : “Keberanian adalah pembebas manusia dari marabahaya.”
Suara gaib : “Mempelajari ilmu apakah yang bisa membuat manusia jadi bijaksana?”
Yudhistira :”Orang tidak menjadi bijaksana hanya karena mempelajari kitab-kitab suci. Orang menjadi bijaksana karena bergaul dan berkumpul dengan para cendekiawan besar.”
Suara gaib : “Apa yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?”
Yudhistira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini.”
Suara gaib : “Apa yang lebih tinggi dari langit?”
Yudhistira : “Bapa.”
Suara gaib : “Apa yang lebih kencang dari angin?”
Yudhistira : “Pikiran.”
Suara gaib : “Apa yang lebih berbahaya dari jerami kering di musim panas?”
Yudhistira : “Hati yang menderita duka nestapa.”
Suara gaib : “Apa yang menjadi teman seorang pengembara?”
Yudhistira : “Kemauan belajar.”
Suara gaib : “Siapakah teman seorang lelaki yang tinggal di rumah?”
Yudhistira : “Istri.” Suara gaib : “Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?”
Yudhistira : “Dharma. Hanya Dialah yang menemani jiwa dalam kesunyian perjalanan setelah kematian.”
Suara gaib : “Perahu apakah yang terbesar?”
Yudhistira : “Bumi dan segala isinya adalah perahu terbesar di jagad ini.”
Suara gaib : “Apakah kebahagiaan itu?”
Yudhistira : “Kebahagiaan adalah buah dari tingkah laku dan perbuatan baik.”
Suara gaib : “Apakah itu, jika orang meninggalkannya ia dicintai oleh sesamanya?”
Yudhistira : “Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan orang akan dicintai sesamanya.”
Suara gaib : “Kehilangan apakah yang menyebabkan orang bahagia dan tidak sedih?”
Yudhistira : “Amarah. Kehilangan amarah membuat kita tidak lagi diburu oleh kesedihan.”
Suara gaib : “Apakah itu, jika orang membuangnya jauhjauh, ia menjadi kaya?”
Yudhistira : “Hawa nafsu. Dengan membuang hawa nafsu orang menjadi kaya.”
Suara gaib : “Apakah yang membuat orang benar-benar menjadi brahmana? Apakah kelahiran, kelakuan baik atau pendidikan sempurna? Jawab dengan tegas!”
Yudhistira : “Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi brahmana; hanya kelakuan baik yang membuatnya demikian. Betapapun pandainya seseorang, ia tidak akan menjadi brahmana jika ia menjadi budak kebiasaan jeleknya. Betapapun dalamnya penguasaannya akan kitab-kitab suci, tapi jika kelakuannya buruk, ia akan jatuh ke kasta yang lebih rendah.”
Suara gaib : “Keajaiban apakah yang terbesar di dunia ini?”
Yudhistira : “Setiap orang mampu melihat orang lain pergi menghadap Batara Yama, namun mereka yang masih hidup terus berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Itulah keajaiban terbesar.” Demikianlah yaksa itu menanyakan berbagai masalah dan Yudhistira menjawab semuanya tanpa ragu. Pertanyaan terakhir yang diajukan yaksa itu langsung berkaitan dengan saudara-saudaranya.
Suara gaib : “Wahai Raja, seandainya salah satu saudaramu boleh tinggal denganmu sekarang, siapakah yang engkau pilih? Dia akan hidup kembali.”
Yudhistira : (Berpikir sesaat, kemudian menjawab.) “Kupilih Nakula, saudaraku yang kulitnya bersih bagai awan berarak, matanya indah bagai bunga teratai, dadanya bidang dan lengannya ramping. Tetapi kini ia terbujur kaku bagai sebatang kayu jati.”
Suara gaib : (Belum puas akan jawaban Yudhistira, yaksa itu bertanya lagi.) “Kenapa engkau memilih Nakula, bukan Bhima yang kekuatan raganya enam belas ribu kali kekuatan gajah? Lagi pula, kudengar engkau sangat mengasihi Bhima. Atau, mengapa bukan Arjuna yang mahir menggunakan segala macam senjata, terampil olah bela diri dan jelas dapat melindungimu? Jelaskan, mengapa engkau memilih Nakula!”
Yudhistira : “Wahai Yaksa, dharma adalah satu-satunya pelindung manusia, bukan Bhima bukan Arjuna. Apabila dharma tidak diindahkan, manusia akan menemui kehancuran. Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah istri ayahku dan mereka adalah ibuku. Aku, anak Kunti, masih hidup. Jadi Dewi Kunti tidak kehilangan keturunan. Dengan pertimbangan yang sama dan demi keadilan, biarkan Nakula, putra Dewi Madri, hidup bersamaku.” Yaksa itu puas sekali mendengar jawaban Yudhistira yang membuktikan bahwa ia adil dan berjiwa besar.
Akhirnya, yaksa itu menghidupkan kembali semua saudara Yudhistira. Ternyata, menjangan dan yaksa itu adalah penjelmaan Batara Yama, Dewa Kematian, yang ingin menguji kekuatan batin dan dharma Yudhistira. Batara Yama berdiri di depan Yudhistira lalu memeluknya sambil berkata, “Beberapa hari lagi masa pengasinganmu di hutan rimba akan selesai. Di tahun ketiga belas, kalian harus hidup dengan menyamar.
Yakinlah, masa itu pun akan dapat kalian lewati dengan baik. Tidak seorang musuh pun akan mengetahui keberadaan kalian. Kalian pasti lulus dalam ujian yang berat ini. Dharma akan selalu menyertaimu, Yudhistira.” Setelah berkata demikian, Batara Yama menghilang. Pengalaman Arjuna dalam perjalanan mencari senjata pamungkas yang sakti, pengalaman Bhima bertemu dengan Hanuman dan Dewa Ruci, dan pengalaman Yudhistira bertemu dengan Batara Yama, menambah kekuatan jasmani, keyakinan batin serta kemuliaan rohani Pandawa. Secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama mereka semakin tekun menjalani dan mengagungkan dharma.

Wejangan Krisna kepada Arjuna sebelum perang melawan Karna

Bhagawadgita (Bhagavad Gita)
Wejangan Krisna kepada Arjuna sebelum perang melawan Karna

Krishna:
Apa yang kusampaikan kepadamu bukanlah hal baru;
sudah berulang kali kusampaikan di masa lalu.
Arjuna:
Apa maksudmu dengan masa lalu? Kapan?
Krishna:
Dari masa ke masa, di setiap masa.
Sesungguhnya kita semua telah berulang kali lahir dan mati,aku mengingat setiap kelahiran dan kematian.
Kau tidak, itu saja bedanya.

Setiap kali keseimbangan alam terkacaukan,dan ketakseimbangan mengancam keselarasan alam,maka “Aku” menjelma dari masa ke masa,
untuk mengembalikan keseimbangan alam.
“Aku” ini bersemayam pula di dalam dirimu,bahkan di dalam diri setiap makhluk hidup,segala sesuatu yang bergerak maupun tak bergerak.
Menemukan “Sang Aku” ini merupakan pencapaian tertinggi.
Dengan menemukan jati diri, Sang Aku Sejati,segala apa yang kau butuhkan akan kau
peroleh dengan sangat mudah.
Berkaryalah dan Keberadaan akan membantumu.
Sesuai dengan sifat dasar masing-masing,Manusia dibagi dalam 4 golongan utama.
Walau pembagian seperti itu,Tidak pernah mempengaruhi Sang Jiwa Agung.
Para Pemikir bekerja dengan berbagai pikiran mereka.
Para Satria membela negara dan bangsa.
Para Pengusaha melayani masyarakat dengan berbagai cara.
Para Pekerja melaksanakan setiap tugas dengan baik.
Berada dalam kelompok manapun,bekerjalah selalu sesuai kesadaranmu.
Jangan memikirkan keberhasilan maupun kegagalan.
Terima semuanya dengan penuh ketenangan.
Bila kau bekerja sesuai dengan kodratmu, tidak untuk memenuhi keinginan serta harapan tertentu, maka walau berkarya sesungguhnya kau melakukan persembahan.
Dan, kau terbebaskan dari hukum sebab akibat.
Tuhan yang kau sembah, juga adalah Persembahan itu sendiri.
Dalam diri seorang penyembahpun, Ia bersemayam.
Berkaryalah dengan kesadaran ini,dan senantiaasa merasakan kehadiran-Nya.
Banyak sekali cara persembahan – Ada yang menghaturkan sesajen dalam berbagai bentuk.
Ada pula yang menghaturkan kesadaran hewani pada “Sang Aku” – sejati yang bersemayam di dalam diri.
Bila kau mempersembahkan kenikmatan dunia pada pancaindera, maka kau menjadi penyembah pancaindera.
Bila kau mengendalikan pancaindera,maka kau menyembah Kesadaran Murni di dalam diri.
Ada yang mempersembahkan harta, ada yang bertapa,Ada yang berkorban, ada yang menjauhkan diri dari dunia,Ada yang sibuk mempelajari kitab suci, ada yang berpuasa.
Apapun yang kau lakukan, lakukanlah dengan kesadaran!
Langkah berikutnya:
Lakoni hidupmu seolah kau sedang melakukan persembahan.
Berkarya dengan penuh kesadaran, itulah Pengabdian.
Cara-cara lain hanya bersifat luaran.
Terlebih dahulu, raihlah kesadaran diri.
Bila kau tidak mengetahui caranya,Belajarlah dari mereka yang telah sadar.
Untuk itu hendaknya kau berendah hati.
Orang yang sadar tidak pernah bingung.
Pandangannya meluas, penglihatannya menjernih, ia yakin dengan apa yang dilakukannya,Sehingga meraih kedamaian yang tak terhingga nilainya.
Arjuna:
Bila Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri
merupakan tujuan hidup,maka untuk apa melibatkan diri dengan dunia?
Aku sungguh tambah bingung.
Krishna:
Pengendalian Diri dan Penemuan Jati Diri memang merupakan tujuan tertinggi.
Namun, kau harus berkarya untuk mencapainya.
Dan, berkarya sesuai dengan kodratmu.
Bila kau seorang Pemikir,kau dapat menggapai Kesempurnaan Diri dengan cara mengasah kesadaranmu saja.
Bila kau seorang Pekerja,kau harus menggapainya lewat Karya Nyata,dengan menunaikan kewajibanmu, serta melaksanakan tugasmu.
Dan, kau seorang Pekerja,kau hanya dapat mencapai Kesempurnaan Hidup lewat Kerja Nyata.
Itulah sifat-dasarmu, kodratmu. Sesungguhnya tak seorang pun dapat
menghindari perkerjaan.
Seorang Pemikir pun sesungguhnya bekerja.
Pengendalian Pikiran – itulah pekerjaannya.
Bila pikiran masih melayang ke segala arah,apa gunanya duduk diam dan menipu diri?
Lebih baik berkarya dengan pikiran terkendali.
Bekerjalah tanpa pamrih!
Hukum Sebab Akibat menentukan hasil perbuatan setiap makhluk hidup.
Tak seorang pun luput darinya,kecuali ia berkarya dengan semangat menyembah.
Alam Semesta tercipta “dalam”
semangat Persembahan.
Dan, “lewat” Persembahan pula segala kebutuhan manusia terpenuhi.
Bila kau menjaga kelestarian lingkungan,lingkungan pun pasti menjaga kelestarianmu.
Raihlah kebahagiaan tak terhingga dengan saling “menyembah” – membantu dan melindungi.
Bila kau hanya berkarya demi kepentingan pribadi,tak pernah berbagi dan tak peduli
terhadap alam yang senantiasa memberi;
maka seseungguhnya kau seorang maling.
Berkaryalah dengan semangat “menyembah”.
Persembahkan hasil pekerjaanmu pada Yang Maha Kuasa.
Dan, nikmati segala apa yang kau peroleh dari-Nya sebagai Tanda Kasih-Nya!
Apa yang kau makan, menentukan kesehatan dirimu.
Dan, makanan berasal dari alam sekitarmu.
Bila kau menjaga kelestarian alam,kesehatanmu pun akan terjaga – inilah Kesadaran.
Waspadai setiap tindakanmu.
Bertindaklah dengan penuh kesadaran.
Inilah Persembahan,yang dapat mengantarmu pada Kepuasan Diri.
Bila kau puas dengan diri sendiri,dan tidak lagi mencari kepuasaan dari sesuatu di luar diri,maka kau akan berkarya tanpa pamrih.
Sesungguhnya seorang Pekerja tanpa Pamrih sudah tak terbelenggu oleh dunia.
Jiwanya bebas, namun ia tetap bekerja,supaya orang lain dapat mencontohinya.
Sesungguhnya tak ada sesuatu yang harus “Ku”-lakukan.
Namun, “Aku” tetap bekerja demi Keselarasan Alam.
Bila “Aku” berhenti bekerja, banyak yang akan mencontohi tindakan-“Ku”,
dan “Aku” akan menjadi sebab bagi kacaunya tatanan masyarakat.
Ketahuilah bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak-Nya.
Tak seorang pun dapat menghindari pekerjaan,kau akan didorong untuk menunaikan kewajibanmu.
Maka, janganlah berkeras kepala – bekerjalah!
Terpicu oleh hal-hal di luar,panca-indera pun bekerja sesuai dengan kodrat mereka.
Janganlah kau terlibat dalam permainan itu.
Jadilah saksi, kau bukan panca-indera.
Berkat pengendalian diri bila inderamu tak terpicu lagi oleh hal-hal luaran,hendaknya kau tidak membingungkan mereka yang belum dapat melakukan hal itu.
Biarlah mereka menghindari pemicu di luar untuk mengendalikan diri.
Berkayalah demi “Aku” dengan kesadaranmu terpusatkan pada-”Ku”,bebas dari harapan dan ketamakan – itulah Persembahan, Pengabdian.
Para bijak berkarya sesuai dengan sifat mereka, kodrat serta kemampuan mereka.
Demikian mereka terbebaskan dari rasa gelisah, dan mencapai kesempurnaan hidup.
Berkaryalah sesuai dengan kemampuan serta kewajibanmu.
Janganlah engkau sekadar ikut-ikutan memilih
suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan sifat dasarmu,tidak sesuai dengan kemampuanmu.
Arjuna:
Aku memahami semua itu,namun kadang tetap saja terpicu untuk melakukan sesuatu yang tidak tepat.
Bagaimana mengatasi hal itu?
Krishna:
Ketahuilah terlebih dahulu penyebabnya – yaitu “keinginan”, “ketamakan” dan sifat dasar manusia yang membuatnya bekerja.
Manusia tak dapat berhenti bekerja.
Bila ia tidak bekerja tanpa pamrih,Ia akan bekerja untuk memenuhi keinginannya.
Ketamakan melenyapkan kesadaran manusia,akhirnya ia binasa terbakar oleh api nafsunya sendiri Kunci keberhasilan manusia terletak pada pengedalian diri.
Bila terkendali oleh pancaindera kau pasti binasa.
Ketahuilah bahwa panca indera mengendalikan raga,namun pikiran menguasai pancaindera.
Di atas pikiran adalah intelek,kemampuanmu untuk membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat – itulah Kesadaran.
Bertindakalah sesuai dengan kesadaranmu.
Dengan pengendalian diri dan bekerja sesuai dengan kesadaran,segala keinginan dan ketamakan dapat kau lampaui.
Kemudian setiap pekerjaan menjadi persembahan pada “Sang Aku” yang bersemayam dalam diri setiap makhluk.
Krishna:
Kau tidak berperang untuk memperebutkan kekuasaan;
kau berperang demi keadilan, untuk menegakkan Kebajikan.
Janganlah kau melemah di saat yang menentukan ini.
Bangkitlah demi bangsa, negeri, dan Ibu Pertiwi.
Arjuna:
Dan, untuk itu aku harus memerangi keluarga sendiri?
Krishna, aku bingung, tunjukkan jalan kepadaku.
Krishna:
Kau berbicara seperti seorang bijak,namun menangisi sesuatu yang tak patut kau tangisi.
Seorang bijak sadar bahwa kelahiran dan kematian,dua-duanya tak langgeng.
Jiwa yang bersemayam dalam diri setiap insan,sungguhnya tak pernah lahir dan tak pernah mati.
Badan yang mengalami kelahiran dan kematian ibarat baju yang dapat kau tanggalkan sewaktu-waktu
dan menggantinya dengan yang baru.
Perubahan adalah Hukum Alam – tak patut kau tangisi.
Suka dan duka hanyalah perasaan sesaat,disebabkan oleh panca-inderamu sendiri ketika berhubungan dengan hal-hal di luar diri.
Lampauilah perasaan yang tak langgeng itu.
Temukan Kebenaran Mutlakdi balik segala pengalaman dan perasaan.
Kebenaran Abadi, Langgeng dan Tak Termusnahkan.
Segala yang lain diluar-Nya sesungguhnya tak ada – tak perlu kau risaukan.
Temukan Kebenaran Abadi Itu, Dia Yang Tak Terbunuh dan Tak Membunuh.
Dia Yang Tak Pernah Lahir dan Tak pernah Mati.
Dia Yang Melampaui Segala dan Selalu Ada.
Kau akan menyatu dengan-Nya,bila kau menemukan-Nya.
Karena, sesungguhnya Ialah yang bersemayam di dalam dirimu, diriku, diri setiap insan.
Maka, saat itu pula kau akan terbebaskan dari suka, duka, rasa gelisah dan bersalah.
Kebenaran Abadi Yang Meliputi Alam Semesta, tak terbunuh oleh senjata seampuh apapun jua.
Tak terbakar oleh api, tak terlarutkan oleh air, dan tidak menjadi kering karena angin.
Sementara itu, wujud-wujud yang terlihat olehmu muncul dan lenyap secara bergantian.
“Keberadaan” muncul dari “Ketiadaan”
dan lenyap kembali dalam “Ketiadaan”.
Jiwa tak berubah dan tak pernah mati;
hanyalah badan yang terus-menerus mengalami kelahiran dan kematian.
Apa yang harus kau tangisi?
Badanmu lahir dalam keluarga para Satria,ia memiliki tugas untuk membela negara dan bangsa.
Bila kau melarikan diri dari tanggungjawabmu, kelak sejarah akan menyebutmu pengecut.
Bila kau gugur di medan perang,
kau akan mati syuhda, namamu tercatat sebagai pahlawan.
Dan, bila kau menang, rakyat ikut merayakan menangnya Kebajikan atas kebatilan Sesungguhnya kau tak perlu memikirkan
kemenangan dan kekalahan.
Lakukan tugasmu dengan baik.
Berkaryalah demi kewajibanmu.
Janganlah membiarkan pikiranmu bercabang, bulatkan tekadmu, dan dengan keteguhan hati, tentukan sendiri
jalan apa yang terbaik bagi dirimu.
Berkaryalah demi tugas dan kewajiban, bukan demi surga, apa lagi kenikmatan dunia.
Janganlah kau merisaukan hasil akhir, tak perlu memikirkan kemenangan maupun kegagalan.
Dengan jiwa seimbang, dan tak terikat pada pengalaman suka maupun duka, berkaryalah dengan penuh semangat!
Bebaskan pikiranmu dari pengaruh luar;
dari pendapat orang tentang dirimu, dan apa yang kau lakukan.
Ikuti suara hatimu, nuranimu.
Arjuna:
Bagaimana Krishna, bagaimana mendengarkan suara hati?
Krishna:
Bebas dari segala macam keinginan dan pengaruh pikiran, kau akan mendengarkan dengan jelas
suara hatimu – itulah Pencerahan!
Saat itu, kau tak tergoyahkan lagi oleh pengalaman duka, dan tidak pula mengejar pengalaman suka.
Rasa cemas dan amarah pun terlampaui seketika.
Krishna:
Ia yang tercerahkan tidak menjadi girang
karena memperoleh sesuatu;
tidak pula kecewa bila tidak memperolehnya.
Dirinya selalu puas, dalam segala keadaan.
Pengendalian Diri yang sampurna membuatnya tidak terpengaruh oleh pemicu-pemicu di luar.
Ia senantiasa sadar akan Jati-Dirinya.
Krishna:
Keterlibatan panca-indera dengan pemicu-pemicu di luar
menimbulkan kerinduan,
kemudian muncul keinginan.
Dan, bila keinginan tak terpenuhi,
timbul rasa kecewa, amarah.
Manusia tak mampu lagi membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat.
Krishna:
Seorang bijak yang tercerahkan terkendali panca-inderanya, maka ia dapat hidup di tengah keramaian dunia,
dan tak terpicu oleh hal-hal diluar diri.
Demikian dengan keseimbangan diri, ia menggapai kesadaran yang lebih tinggi. Jiwanya damai, dan ia pun
memperoleh Kebahagiaan Kekal Sejati.
Krishna:
Pengendalian Diri menjernihkan pandangan manusia, ia menggapai kesempunaan hidup.
Saat ajal tiba, tak ada lagi kekhawatiran baginya, ia menyatu kembali dengan Yang Maha Kuasa.

SPEKTRUM WARNA DI WAKTU SOLAT – SUBHANALLAH !

Ditanya Nabi SAW, apakah amalan yang sebaiknya, maka bersabda Nabi : Solat di awal waktunya” ( Riwayat oleh At-Tirmidzi dan Abu Daud, Al-Albani menshohihkannya)

Nabi SAW bersabda. Ertinya : “Tangguhlah sehingga sejuk bagi solat zohor, kerana kekuatan panas (matahari) adalah dari bahang neraka jahannam.” ( Hadith shohih riwayat Al-Bukhari)

Setiap peralihan waktu solat sebenarnya menunjukkan perubahan tenaga alam ini yang boleh diukur dan dicerap melalui perubahan warna alam.

* * *

SUBUH

Waktu solat subuh adalah dimulai setelah terbit fajar shadiq sampai terbitnya matahari.

Pada waktu Subuh alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisma tubuh. Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahsia berkaitan dengan penawar/rezeki dan komunikasi. Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki.

Ini kerana tenaga alam iaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam keadaan roh dan jasad bercantum (keserentakan ruang dan masa) – dalam erti kata lain jaga daripada tidur. Disini juga dapat kita cungkil akan rahsia diperintahkan solat diawal waktu. Bermulanya saja azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum. Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud. Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenar sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi.

ZUHUR

Waktu solat zuhur adalah dimulai sejak matahari tergelincir ke barat dan berakhir di saat bayangan sesuatu benda seperti kayu panjang itu sama betul panjangnya dengan kayu tersebut.

Warna alam seterusnya berubah ke warna hijau (isyraq & dhuha) dan kemudian warna kuning menandakan masuknya waktu Zohor. Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem penghadaman. Warna kuning ini mempunyai rahsia yang berkaitan dengan keceriaan. Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya. Orang yang tengah sakit perut ceria tak ?

ASAR

Waktu solat asar adalah dimulai setelah waktu Zuhur tamat, iaitu ketika bayangan sesuatu benda seperti kayu panjang, sama panjang dengan bendanya dan berakhir setelah matahari terbenam.

Warna alam akan berubah kepada warna oren, iaitu masuknya waktu Asar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis yang merangkumi sistem reproduktif. Rahsia warna oren ialah kreativiti. Orang yang kerap tertinggal Asar akan hilang daya kreativitinya dan lebih malang lagi kalau di waktu Asar ni jasad dan roh seseorang ini terpisah (tidur la tu ). Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Asar ni amat diperlukan oleh organ-organ reproduktif kita ;)

MAGHRIB

Waktu solat mahgrib adalah dimulai setelah terbenamnya matahari dan berakhir apabila mega merah telah hilang dan tidak kelihatan.

Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini kerana spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga kerana mereka resonan dengan alam.

Mereka yang sedang dalam perjalanan juga seelok-eloknya berhenti dahulu pada waktu ini (solat Maghrib dulu la ) kerana banyak interferens (pembelauan) berlaku pada waktu ini yang boleh mengelirukan mata kita. Rahsia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang.

ISYA

Waktu solat isyak adalah dimulai setelah hilangnya mega merah sampai terbitnya fajar shadiq iaitu subuh.

Apabila masuk waktu Isyak, alam berubah ke warna Indigo dan seterusnya memasuki fasa Kegelapan. Waktu Isyak ini menyimpan rahsia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak. Mereka yang kerap ketinggalan Isyaknya akan selalu berada dalam kegelisahan. Alam sekarang berada dalam Kegelapan dan sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam. Tidur pada waktu ini dipanggil tidur delta dimana keseluruhan sistem tubuh berada dalam kerehatan.

Selepas tengah malam, alam mula bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan seterusnya ungu di mana ianya bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus. Tubuh sepatutnya bangkit kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiamullail.

* * *

Begitulah secara ringkas perkaitan waktu solat dengan warna alam. Manusia kini sememangnya telah sedar akan kepentingan tenaga alam ini dan inilah faktor adanya bermacam-macam kaedah meditasi yang dicipta seperti taichi, qi-gong dan sebagainya. Semuanya dicipta untuk menyerap tenaga-tenaga alam ke sistem tubuh. Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur kerana telah di’kurniakan’ syariat solat oleh Allah s.w.t tanpa perlu kita memikirkan bagaimana hendak menyerap tenaga alam ini. Hakikat ini seharusnya menginsafkan kita bahawa Allah s.w.t mewajibkan solat ke atas hambanya atas sifat pengasih dan penyayang-Nya sebagai pencipta kerana Dia tahu hamba-Nya ini amat-amat memerlukannya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.